Kamis, 30 Juni 2011

1,2, atau ... #30harimenulis

Kemarin saya pergi ke Bandung bersama suami dan saudara-saudara ipar saya beserta keponakan saya yang 5 bulan. Saya langsung teringat waktu saya baru saja memiliki anak. Perjalanan saya terjauh adalah dari Bogor ke Tangerang dan perasaan saya saat itu barang bawaan saya tidak sebanyak bawaan keponakan saya kemarin.

Karena melihat barang bawaan yang banyak itu saya jadi berpikir seperti apa ya waktu ibu saya membawa saya dan adik-adik saya, dulu waktu kami masih kecil, bepergian. Saya terbayang ibu saya membawa saya yang berusia 5 tahun, adik saya Kiki yang berusia 3,5 tahun, dan adik saya paling kecil Riri yang berusia 2 tahun. Saya cuma bisa begidik ngeri.

Kata orang, punya anak dalan jarak dekat saja supaya kalau repot sekalian. Cuma kalau dari bayangan saya yang tadi, yang ada malah total chaos. Pasti pernah ketemu kan balita-balita yang notabene tidak pernah bisa diem. Yang paling saya ingat adalah kata-kata nenek saya (alm.) “Durung mingkem” kalau saya atau adik saya jatuh atau melakukan sesuatu yang tidak pantas dilakukan padahal sudah diberitahu sebelumnya. Namanya juga anak-anak (ngeles nih ;D).

Kata orang anak juga punya rejeki masing-masing, kata orang juga, lebih baik direncanakan, tapi kata BKKBN “dua anak lebih baik”. Jadi mana yang benar? Kalau buat orang kebobolan bagaimana? Menulis soal perencanaan punya momongan bisa bikin mulut saya berbusa mengungkapkan mengapa saya belum ingin memiliki anak lagi setelah 6 tahun Athayya lahir. Memang kalau kejauhan beda umurnya, kasihan juga. Tapi kepala saya tidak berhenti menghitung perencanaan uangnya. Mumet..mumet…

Selasa, 28 Juni 2011

Mulder & Scully #30harimenulis

Setelah saya cari-cari ternyata saya menemukan ide cerita ini. Ini merupakan salah satu tokoh favorit saya. Dulu sebelum tv kabel menjamur dimana-mana, serial The X Files hanya ada di SCTV dengan jam tayang yang berubah-ubah, tapi yang saya ingat sih setiap Rabu jam 21.30 WIB.


Saya biasanya ditemani oleh ayah saya ketika menonton serial ini. Entah karena mengikuti serial ini atau memenuhi syarat bimbingan orangtua ;). Yang paling saya ingat adalah episode Arcadia yaitu ketika Mulder & Scully berusaha memecahkan kasus hilangnya pasangan-pasangan suami istri di sebuah rumah yang terletak di suatu perumahan. Dan mereka dikirim sebagai pasangan suami istri dan menemukan bahwa pasangan-pasangan yang hilang itu disebabkan karena mereka diserang dan diculik oleh monster yang bernama Ubermenscher.


Sebetulnya yang menarik dari episode itu tidak hanya dari pemecahan kasusnya saja (as usual!) tetapi juga betapa Scully menemukan fakta bahwa dia sulit tinggal serumah dengan Mulder karena Scully menyadari dia tertarik dengan Mulder. Hahaha… Emosi yang mereka mainkan dapat dirasakan oleh saya sebagi penonton, karena Scully jelas-jelas salah tingkah dan tidak nyaman dengan perilaku Mulder. dan Mulder pun tidak habis-habisnya menggoda Scully. So sweet...


Jika dari diskusi saya dan sahabat saya yang juga penggila serial ini, kami sepakat bahwa dua lakon ini sebetulnya saling menyayangi walaupun terkadang Scully bersikap cuek (tapi khawatir) dengan keadaan Mulder. Ini bisa terlihat saat Mulder menghilang begitu saja.


Ooo… Mulder & Scully, when will you both come back? I miss you both.


28/06/2011

Mayang

Senin, 27 Juni 2011

Good Life 2.0 #30harimenulis

Setelah memeras otak mencari ide setelah tulisan pertama hari ini, saya teringat untuk membalas tulisan orang saja. Semoga si Ayah tidak berpikir-pikir macam-macam dengan tulisan ini.


Woow… itu yang ada di kepala saya saat membaca jurnal sahabat saya. Saya tidak pernah menyangka dia akan mengangkat cerita tentang kami di jurnalnya. Tidak ada rasa sebal sedikit pun justru saya merasa tersanjung karena ceritanya itu.


Saya masih ingat ketika dia menolak seorang perempuan yang menyatakan perasaannya kepada dia (we both know who she is ;D), jalinan silaturahmi antara dia dan wanita itu runtuh dalam sekejap. Dalam hati saya, there’s no way I’m gonna lose him for something like this. Karena saya tahu sahabat saya yang control freak ini lebih baik memelihara persahabatan daripada merusaknya gara-gara masalah cinta monyet. Kami berdua yakin jodoh itu Tuhan yang mengatur.


Sekilas kejadian dan ucapan orang-orang teringat kembali. Dari keluarga yang mengira kita berdua “in a relationship” gara-gara rajin banget telepon sampai adik kelas yang tidak sengaja bertemu di salah satu toko buku memergoki kita berdua dan setelah menanyakan kabar mengobrol sebentar sang adik kelas bertanya, “tinggal nunggu undangannya ya kang.” Do you still remember this? Pertanyaan itu dibalas dengan senyuman oleh sahabat saya (kecut ga ya? ;P) dan tarikan alis saya. Sampai-sampai teman satu kelas sendiri mengira memang ada yang spesial dari hubungan kami. You guys are soooo wrong.


Kenapa orang-orang beranggapan tidak mungkin pria dan wanita bisa bersahabat layaknya pria dan pria atau wanita dan wanita? Buat mereka tampaknya tidak mungkin hal itu terjadi tanpa adanya cinta.


Bukan karena hanya ingin membuktikan bahwa persahabatan antara pria dan wanita bisa berhasil tanpa adanya bumbu-bumbu cinta, tapi saya sudah telanjur “jatuh cinta” dengan hubungan kami. Saya tidak ingin kehilangan teman bertukar pikiran yang bisa mengatakan apa adanya bukan teman yang mengatakan sesuatu yang bikin saya terjebak dengan keadaan (that is spouse’s job). Teman yang ada saat saya tidak memiliki pegangan 8 tahun yang lalu (thanks for the telephone bill!!). Teman yang memiliki niat untuk berteman. What a good life it is.Karena saya memiliki teman satu lagi seperti itu sekarang dan pasnya lagi dia bisa mengatakan sesuatu yang membuat saya nyaman. I love you, Ayah.


Dear George,


I may have met my Michael. But I cherish our friendship because you make me what I am now. You make me see the better me. I may ended becaming one of shallow-minded teenager back then.

Thank you for your understanding. You never turn your back on me even once.


Regards,

Julles.



27/06/2011 - part 1

Mayang

Because I'm truly... #30harimenulis

Girl tell me only this. That i'll have your heart for always. And you want me by your side. Whispering the words i'll always love you ~ Truly, Lionel Richie


Bila anda memiliki pasangan, entah yang pacaran atau menikah, anda pasti punya kenangan bersama. Sama dengan saya yang memiliki lagu kenangan dengan mantan pacar saya.


Sebetulnya tidak perlu ada pasangan untuk mempunyai memori lagu atau film. Karena memori lagu atau film bisa mengingatkan kita akan suatu kejadian yang menarik. Jadi ceritanya saya tidak terlalu familiar dengan lagu-lagu 70an atau 80an. Tapi gara-gara mantan pacar saya ini, saya jadi suka dengan Lionel Richie, yang sebelumnya saya belum pernah dengar. Yang pertama kali saya dengar adalah Say You, Say Me. Wuiidihh,, bikin saya senang sekali kalau sudah dipasangkan lagu itu via Winamp.


Tetapi yang menjadi lagu kenangan kita berdua adalah lagu Truly (itu tuh yang liriknya diatas)… Fu..fu..fu… meleleh saya. Apalagi dia menyanyikannya di foodcourt salah satu pusat perbelanjaan di Bandung. OMG!! Cukup dengan curcol-nya. Yang ingin saya katakan adalah, apapun lagu anda pasti ada kenangan yang terbangkitkan setiap kali mendengarnya, iya kan? Kebetulan saja setiap saya bertengkar dengan suami saya, saya teringat dengan lagu itu. Hihihi… Ada lagu atau film yang membangkitkan kenangan atau yang paling anda ingat?


27/06/2011 - part 1

Mayang

Jumat, 24 Juni 2011

E-book #30harimenulis

Gara-gara ini saya tidak bisa fokus jika sudah sampai kantor, weekend pun diusahakan buka komputer demi hal ini. Bikin gila! Tapi saya kecanduan.

E-book yang pertama kali saya miliki adalah Aesop Fables. Saya mencari buku ini untuk anak saya, tapi belum sempat membaca, saya sudah terlena dengan e-book Andy McDermott, The Hunt For Atlantis. Hal ini berlangsung hingga saat ini. Bila ada pengarang yang resensinya bagus dan setelah dibaca ternyata KEREN, saya akan buru hingga dapat buku-buku berikutnya.

Hal ini merupakan anomali bagi saya karena saya awalnya adalah mahluk anti komputer. Bagaimana tidak, dulu saya hanya kuat duduk dan menggunakan komputer maksimal dua jam. Dua jam, tidak lebih. Lebih dari itu, mata saya merah dan berair kemudian perih di hari berikutnya. Tapi gara-gara Eddie Chase & Nina Wilde, mata ini sukses melek berjam-jam di depan komputer. Dan berlanjut ke judul-judul dan pengarang-pengarang yang lain.

Saya tahu saya menyakiti orang lain karena e-books yang saya miliki berasal dari antah berantah yang mungkin empunya judul buku juga tidak rela bukunya berakhir di tempat itu tapi kalau boleh meminjam kata-kata bung Takdir, well I love trees, dan tambahan saya juga cinta duit saya ;P

Seks = Kebutuhan dasar ?? #30harimenulis

Mari menulis untuk hari kemarin. Setelah seharian kemarin tidak mendapatkan ide untuk tulisan, baru sekarang saya terpikir. Seks. Menurut Abraham Maslow dengan Teori Piramida Kebutuhannya atau Hierarchy of Needs, kebutuhan manusia terdiri dari 5 lapisan (bisa dilihat di gambar bawah) dan yang paling mendasar adalah kebutuhan fisiologis seperti makan, minum, tidur, beraktivitas, menghindari sakit, membuang limbah, dan seks. Saya penasaran kenapa sih seks bisa dijadikan salah satu kebutuhan dasar manusia?

Saya putar otak untuk mencari jawaban pertanyaan saya sendiri dan hasilnya…..

Kenapa seks menjadi salah satu kebutuhan dasar (Setidaknya menurut Hierarchy of Needs)?

11Prokreasi yaitu keinginan untuk melanjutkan keturunan. Oke, menurut saya alasan ini bisa diterima karena

2. Kebutuhan untuk disayangi atau diperhatikan. Karena memang manusia pada dasarnya mahluk sosial.

3. well, it feels great. (Saya setuju dengan pendapat ini)

Tapi hanya tiga alasan diatas saja yang bisa saya pikirkan. Mungkin anda punya alasan lain? Tetapi menurut saya seks tidak harus menjadi kebutuhan dasar (kecuali untuk yang hidupnya bergantung dengan hal tersebut kali ya.. and married couple). Karena untuk melanjutkan keturunan, selain seks masih ada program bayi tabung ;D. Lalu untuk kebutuhan disayangi ataupun sebaliknya tidak perlu ditunjukkan secara seksual, cara non-seksual juga bisa.

Dan untuk pendapat saya yang ketiga setelah dipikir-pikir lagi, relatif juga sih. Karena untuk penderita vaginismus, berhubungan seks bisa jadi akhir dunia.

So, menurut anda apakah seks adalah kebutuhan dasar??

24/06/2011 – part 1

Mayang

Rabu, 22 Juni 2011

Dicky Oh Dicky... #30harimenulis

Ketika membaca tulisan Evi Nurisra tentang menggambar siang ini, saya jadi teringat kenangan yang mirip dengan kenangan Evi itu. Hanya saja, waktu itu saya duduk di kelas 1 SMU dan waktu itu sedang ujian menggambar (Help me with this, alum. Ada yang inget pak Dodo ngajar pelajaran apa waktu SMU?).

Saya masih ingat dengan jelas waktu itu hari-hari terakhir ujian caturwulan. Salah satu yang diuji adalah pelajaran menggambar itu. Untuk menghindari skandal mencontek, dari hari pertama ujian anak kelas satu dipasangkan dengan anak kelas 2 untuk posisi duduknya. Jadinya selang-seling, kelas 1, kelas 2, dst. Tapi yang masih memberikan kesempatan mencontek adalah depan belakang posisi tempat duduk masih dari rekan-rekan satu kelas.

Teman saya yang tinggi, atlet softball, dan tidak pintar menggambar yang bernama Dicky (sori Ki, buka aib ;{) duduk di depan saya. Saya sebetulnya tidak terlalu gila gambar seperti Arief Noor Iffandy, tapi pelajaran Pak Dodo ini bisa bikin saya rileks. Di lembar ujian sudah tertera instruksi – instruksi yang harus diikiuti sehingga tercipta gambar gapura dengan perspektif. Baru saja kertas selesai dibagikan, Dicky mulai gelisah,

“May, lu bisa ga?”

“Ntar. Belum baca.”

Setelah beberapa menit berlalu dan merasa saya sudah membaca habis instruksi ujian itu, Dicky kembali bertanya, dan kali ini lebih jelas maksud dan tujuannya,

“May, bisa ga? Gua ngga ngerti nih.”

“Kayanya sih bisa. Emang kenapa gitu, ki?”

“Gw niru gambar lu aja ya.”

“Gimana caranya?” (saya sudah ngeri terbayang digiring ke kantor BP)

“Lu bikinnya pelan-pelan, ntar gw ikutin.” Hati ini semakin deg-degan, tapi saya tidak tega melihat teman saya jadi gagal (contoh buruk untuk solidaritas. Anak-anak jangan ditiru ya!)

Akhirnya saya mulai menggambar dengan posisi kertas agak keluar meja supaya Dicky bisa lihat. Tapi setelah 30 menit berjalan dan gambar sudah 60%, saya merasa ada yang aneh dengan gambar itu. Saya baca kembali instruksinya. Ya Allah, lebar gapuranya salah. Akhirnya saya menyampaikan berita buruk itu ke Dicky,

“Ki, gambarnya salah.”

“Apanya yang salah?”

“Lebarnya kurang. Lu ada kertas lagi ga? Gw mau ngulang lagi nih.”

“Gw ngga ada kertas lagi, May.” (Senior-senior di samping kita terkikik-kikik mendengar Dicky seperti tidak ada harapan). Mukanya mulai gelisah sampai akhirnya suaranya terdengar sangat optimistis.

“May, gambar lu yang salah mana? Sini.”

“Mau lu apain?” (sambil saya kasih lewat samping)

“Buat gw ya. Mau gw kumpulin.”

“HAH? (Senior di sebelah saya pura-pura batuk supaya suara yang kaget itu tidak terdengar pengawas). Itu kan salah, Ki.”

“Biarin, daripada gw ngga bisa ngegambar sama sekali. Boleh ga?”

“Mmmm… Tip-ex dulu namanya.”

“Yoi. Makasih ya, May. Gw duluan ya.”

Sampai saat itu saya tidak pernah menyadari betapa untuk mencapai apa yang diinginkan, seseorang akan melakukan apa saja. Dalam hal ini keinginan Dicky untuk dapat nilai di mata pelajaran itu membuat dia buta akan kesalahan dari gambar yang saya buat. What a concept.

Selasa, 21 Juni 2011

Cleopatra #30harimenulis


Siang ini saya sempatkan membaca satu artikel tentang Cleopatra di National Geographic edisi Juli 2011 dan dua bab di buku “The O Project”. Yang ingin saya bahas saat ini adalah tentang Cleopatra (untuk The “O” Project, lain waktu saja, otaknya sudah tidak kuat menganalisis tulisan yang agak berat). Saya jadi terpikir sepertinya sudah jadi rahasia umum bila Cleopatra digambarkan sebagai sosok yang cantik dan memiliki sex appeal yang kuat. Karena beliau mampu menaklukkan dua hati petinggi Romawi, Julius Caesar dan Mark Antony.


Padahal menurut Plutarch, seorang sejarawan Yunani, kecantikan Cleopatra bukanlah hal yang dapat membuat si pengamat terpana; interaksi dengan Cleopatra memikat hati, penampilannya bersamaan dengan sifat meyakinkannya dalam sebuah diskusi dan pertukaran karakternya, sangat membangkitkan semangat. Gairah juga datang dengan nada suaranya, dan lidahnya seperti instrument musik berdawai.


Apa yang saya bisa tarik dari deksripsi Plutarch tentang kecantikan Cleopatra, saya menyimpulkan secara lahiriah penampilan Cleopatra tidaklah berbeda dengan wanita kebanyakan di masanya. Tetapi yang membuatnya cantik adalah otaknya. Yang kemudian terlintas di kepala saya adalah, sebagus apa Angelina Jolie memerankan Cleopatra di film terbarunya. Apakah dapat membelokkan asumsi bahwa Cleopatra adalah seseorang yang cerdas dibandingkan asumsi simbol seks? Sebagian sejarawan kuno mengatakan bahwa Cleopatra menarik hati orang dengan kepintaran, kemampuan berpikir cepat, dan kharismanya.


Cleopatra melahirkan satu anak laki-laki untuk Julius Caesar pada 47 SM, dan tiga anak untuk Mark Antony pada 40 SM dan 36 SM (kelahiran yang pertama adalah kembar). Dan sekedar informasi Cleopatra benama lengkap Cleopatra VII Philopator dan merupakan anggota keluarga dari klan Ptolemy, yang berasal dari Yunani yang menguasai Mesir setelah kematian Alexander Agung. Cleopatra juga merupakan Firaun terakhir Mesir.


Hingga saat ini untuk melihat seperti apa wajah Cleopatra belum dapat dilakukan karena makamnya belum ditemukan. Semoga saja, bila sudah terkuak seperti apa wajah Cleopatra, tunduknya pria bukan hanya berarti karena wajah seorang wanita dan sex appeal-nya saja.

21/06/2011 – part 5

Mayang

Kertas #30harimenulis

Rasanya selalu menyenangkan menulis di atas kertas putih. Saya dapat menuliskan atau menggambarkan apapun yang saya suka. Saya jadi terpikir menganalogikan kertas putih dengan seorang anak. Ketika saya menjadi orangtua baru, rasanya juga seperti itu hanya saja dengan sensasi yang berbeda. Lebih WOW… Mungkin setiap anak yang dilahirkan entah anak pertama, anak kedua, ataupun anak kesepuluh semuanya mirip dengan analogi kertas putih. Rasanya menyenangkan mengajarkan hal-hal baru sama seperti saat menuliskan sesuatu yang baru.

Disaat anak tersebut beranjak remaja, kita seperti melihat kertas yang sudah banyak diisi tulisan dan gambar. Terlalu banyak gangguan bila kita ingin menggambarkan atau menuliskan hal-hal baru, sama dengan remaja itu yang seringkali melawan atau tidak memperhatikan saat diberitahu orangtua.

Tetapi saat dewasa, sang anak dapat menjadi teman berbicara atau sarana instropeksi orangtua. Sama seperti saat kita sudah melewati beratus lembar kertas putih. Ketika kita membuka kembali lembaran tersebut dari awal, kita terkenang hal-hal yang baik dan buruk seret yang dipelajari dari hal-hal tersebut. Membuat suatu cerminan dari proses pendewasaan diri. Yang diharapkan kemudian adalah bagaimana kita dapat membukukan lembaran tersebut dengan baik sama dengan bagaimana kita dapat memberikan kenangan terbaik dari diri kepada orang lain disaat kita sudah tidak ada.

21/06/2011 – part 4

Mayang

Kane Chronicles : The Red Pyramid #30harimenulis


Ini adalah kronika kedua dari Rick Riordan setelah Percy Jackson & The Olympians. Saat saya membaca buku ini saya mengharapkan sesuatu yang berbeda. Well, saya benar-benar menikmati membaca buku-buku ini karena saya disuguhi mitologi yang benar-benar berbeda. Memang sejarah Mesir sama banyaknya dibahas dengan sejarah Yunani atau Romawi. Tapi berapa banyak mitologi dan legenda Mesir yang kita ketahui dibandingkan mitologi dan Romawi? Buat saya, Nol besar. Di buku ini baru saya dapatkan mitologi dan legenda tersebut.

Saya berkenalan dengan dewa-dewi Mesir seperti Ra, Geb, Nut, Osiris, Set, Isis, Nepthys, Horus, dan masih banyak lagi di buku ini. Apakah anda tahu Osiris, Set, Isis, Nepthys, dan Horus adalah anak-anak dari Geb, dewa Bumi dan Nut, dewi Langit? Saya benar-benar terpana saat membaca buku ini.

Buku ini mengisahkan tentang dua bersaudara Kane yaitu, Carter dan Sadie. Keduanya hidup terpisah sejak kematian ibu mereka. Carter hidup dengan sang ayah, Dr. Julius Kane. Sedangkan Sadie hidup dengan orangtua ibunya. Hidup mereka berdua berubah ketika di kunjungan malam Natal tahunan, ayah mereka melakukan ritual yang membawa Set, dewa padang pasir, badai, dan kejahatan kembali dan menguburkan ayah mereka ke dalam peti Osiris. Mulai saat itu, Carter dan Sadie berpetualang menghindari kejaran Set, untuk membebaskan ayah mereka kembali, dan menemukan rahasia-rahasia keluarga mereka yang sulit untuk dapat dipercaya.

Saya tidak bisa memberi nilai kepada buku ini. Karena bagi saya setiap pengarang memiliki jiwa dan cara-cara yang berbeda dalam menulis dan menyelipkan jiwanya dalam sebuah buku. Tapi saya sarankan lebih baik anda membaca edisi bahasa Inggris bukan hasil terjemahan. Seringkali terjemahan merusak esensi dan pesan yang ada di dalam buku itu. Dan satu lagi harapan saya, kalau dibuat menjadi film, let Rick become the scriptwriter.

21/06/2011 – part 3


Surat Elektronik #30harimenulis

Setelah tiga hari tidak membuka surat elektronik, hari ini saya dikagetkan dengan surat yang bertumpuk. Ampun, itu semua harus saya baca satu-satu. Oke, one at a time. Surat elektronik dari bos tentang perpindahan kekuasaan sementara, surat elektronik mailing list dari beberapa website dan jurnal kesehatan yang saya ikuti (ini yang paling banyak… hiks…hiks…), surat elektronik resep masakan, tawaran diskon, surat elektronik beasiswa, dan surat elektronik jalan-jalan.

Yang saya sangat sukai dari kegiatan membaca surat elektronik ini adalah membaca atau melihat resep masakan dan beberapa surat elektronik jurnal/artikel kesehatan yang temanya bikin saya tergelitik seperti “Guys’ Biggest Bedroom Worries” atau “Male Virgin Getting Married Needs Advice”. Atau surat elektronik resep masakan yang membuat saya menitikkan air liur seperti raspberry scones atau chocolate torte. Alamak,,bisa-bisa saya ngidam semua makanan sambil berpikiran kotor ;))

-------------------------------------2 hours later ------------------------------------------

Arrgghh,, I feel like a juggler. Begini nih, kalau lagi enak menulis ada yang menyela. Pagi-pagi di kantor sudah sibuk cari seragam, update inventaris persediaan barang, jejaring sosial kantor, kepikiran hutang tulisan, apalagi ditambah anyang-anyangan. This is exactly what I need to make my day.

Tapi, berhubung saya sudah kembali duduk di depan PC, maka saya lanjutkan kembali kegiatan saya yang tadi yaitu membaca surat elektronik. Sekarang yang saya buka adalah surat elektronik mailing list pencari kerja. Saya senang saat ada lowongan untuk s1 keperawatan yang di luar setting rumah sakit, karena artinya saya bisa ikut melamar disana.

Inilah enaknya saat membuka surat elektronik, saya seakan-akan memberi pekerjaan dan sesuatu yang menyenangkan kepada diri saya sendiri. Kadangkala saat membaca tautan surat elektronik tersebut saya tertawa terbahak-bahak sendiri di kantor. Walaupun memang tidak enaknya ketika kita salah meng-klik tautan karena tertarik dengan “kata pengantar”-nya yang ternyata virus. Huuhh..

21/06/2011 – part 2

Mayang

Atonement #30harimenulis

I think this is a new record in #30harimenulis program for the biggest debt ever (correct me if I’m wrong..), 5 days in a row. I’m really sorry before, because so many incidents on the weekend and Monday that make me unable to stick to the rules. Yeah, I know the proverb, when there’s a will, there’s a way. But for me it seems to say even though there’s a will, there’s no way for you. Hufft..

I know that I might already being dump from this program, but why should I care? Why should I throw something away that has changed my life (literally!)? Something that sometimes make me laugh all day or smiling until the end of days? Tell me why? (Oh my God, I sound like Backstreet Boys).

Here, I dug and met the other me 20 days ago, the other me. Someone that long forgotten, someone whose existence I doubt, The Writing Me. I remembered maybe 8 years ago when I used to write short story or novella. I used to compile my imaginations, dreams, nightmares, and knowledge to make a story. It was forgotten for 8 years and I found it again. There’s no way I’m going back.

Here, I met interesting, fun, and full of wit people. They introduce me to new perspectives, new touches, and obviously bigger idea and attempt. I love my new pack. Guys, you all are such a masterpiece.

Here, I learn something new or recalled something from my memories every day. And I believe that we can learn something from anything. So, tell me why I should out from this pack?

Anyway, to pay the debts, I’m going to post 5 writing today. If you’re getting sick after getting lots of tag from me, please take a rest and stay away for a while from my page ;).

21/06/2011 – part 1

Mayang

P.S : This is my atonement letter. I hope you could forgive me for the debts. I’m in sugar-induced thinking anyway!!

Kamis, 16 Juni 2011

Ilmu dari Athayya #30HariMenulis

Saya senang melihat hasil lukisan atau sketsa seseorang. Saya juga kagum dengan orang yang memiliki bakat tersebut. Karena bagi saya hasil lukisan atau sketsanya tersebut sedikitnya ada hasil olah imajinasi dia. Tapi sayang saya senang sebagai penikmat dan pengagum saja. Tetapi ada satu cerita tentang anak saya dan menggambar ini.

Gambar anak saya memang tidak semirip aslinya tapi dia bisa menggambarkan apa yang dia inginkan dengan jelas. Suatu hari, anak saya menggambar rumah dan tamannya. Ada orang yang berdiri di halaman, pohon, rumput, rumah, serta matahari. Tapi yang aneh ukuran orangnya sama dengan ukuran rumahnya. Karena penasaran saya tanya, “kok, orangnya besar banget, tha? Ngga dikecilin aja.” Lalu dia menjawab, “Ih, ibu. Ini kan ceritanya kita lihatnya dari deket, jadinya orangnya gede.” Oalah,, anakku pake konsep perspektif juga di gambarnya.

Sebetulnya ini yang membuat saya tergelitik dan terlintas dalam pikiran saya anak usia 5 tahun pun punya pendapatnya sendiri atas apa yang dia kerjakan. Dan jangan anda menyalahkan pendapatnya atau tindakannya, karena terkadang ada konsep yang benar di balik itu semua.

16/06/2011

Mayang

Menu Hari Ini #30HariMenulis

Makan apa ya malam ini? Pertanyaan itu selalu terlintas pikiran saya setiap hari,,ya kurang lebih 20 kali sehari ;)). Karena jawaban dari pertanyaan ini akan membawa saya ke tukang sayur dan membeli apa yang saya butuhkan. Nah, jadi kalau belum ada jawabannya dan saya sudah di depan tukang sayur.. bisa bocor besar dompet saya ini. Maunya semua dibeli, dari sayur yang hijau-hijau sampai otak-otak. Bikin senang hati, tapi kepala pusing.

Terkadang pertanyaan simple seperti diatas, sulit dijawabnya. Padahal kan jawabannya mudah, ya mau makan apa? Tapi jangan anda salah kira, jawabannya saja harus lewat beberapa pertimbangan. Pertimbangan selera orang rumah (semakin banyak orang, semakin banyak maunya), dompet (duit seringkali kurang kalau maunya makan enak terus), yang menghabiskan bila beli banyak siapa? Pertimbangan terakhir ini yang kadang bikin belanja dan masak jadi menyebalkan. Kalau sudah dimasak, ternyata cuma dimakan sedikit huughhh…rasanya kok tidak menghargai tenaga dan waktu yang sudah dipakai untuk beli bahan dan memasaknya.

Anyway, saran saya untuk anda yang masih makan dimasakin orang lain (tapi bukan di warung ya..) adalah coba anda beri saran anda mau makan apa. Hal ini meringankan tugas yang memasak yang umumnya adalah ibu rumah tangga. Karena bila anda makan masakan yang mereka masak dengan sukacita dan tandas, itu membuat mereka senang. Dan untuk anda yang memasak, mungkin masak yang itu-itu saja juga membuat anda bosan, selain tidak ada variasi anda juga tidak tertantang mencoba hal baru. Maka ada baiknya anda dan orang-orang yang memekan masakan anda duduk bersama dan berdiskusi “makan apa hari ini”.

Terkadang tidak perlu membelikan orang yang kita sayangi dengan barang-barang mahal, sekedar ucapan terima kasih yang tulus juga sudah menyenangkan hati mereka. Terlebih setelah waktu dan tenaga yang mereka keluarkan untuk memenuhi kebutuhan kita.

16/06/2011 – part 2

Mayang

Baseball Memories #30HariMenulis

Play ball… itu seruan yang bisa bikin saya semangat waktu SMA dulu. Ini adalah olahraga baseball/softball. Pada dasarnya aturan mainnya sama saja. Sama-sama di lapangan yang berbentuk berlian, 4 base, pitcher (pelempar bola), dan pemukul. Hanya saja yang membedakan adalah ukuran bola dan cara melemparnya. Bola pada softball lebih besar daripada bola baseball (bola baseball berukuran lebih kecil daripada bola tenis), dan cara melemparkannya adalah dengan memutarkan tangan, seperti gerakan mendayung. Sedangkan bola baseball dilemparkan dengan mengangkat tangan ke atas.

Saya tertarik dengan permainan ini karena saat saya SMA dulu hanya 4 dari 10 SMA yang ada yang memiliki ekstrakurikuler olahraga ini. Selain itu saya juga tertarik dengan kostumnya. Aww,,celana ketat dari katun tebal dan atasan yang pas badan dari bahan yang sama. Totally sinful. Jadi saya benar-benar melek ketika musim pertandingan dimulai. Karena tidak hanya tim putri saja yang bermain, melainkan juga tim putra yang notabene jadi tambah… gimana ya saya ngomongnya, saru ah (Mohon dipahami waktu itu penulis masih dalam masa puber).

Satu kenangan yang saya ingat dari kegiatan ini adalah waktu saya belajar memukul bola untuk pertama kalinya. Materi belajarnya dan alat-alatnya sih biasa, yang tidak biasa adalah proses belajarnya. Kenapa?? Saat itu, saya dan teman saya hanya diberi arahan saja dan praktek face-to-face dengan pelatihnya. Mungkin karena saya dan teman saya masih memasang muka bodoh, akhirnya salah satu dari rekan senior kami datang menghampiri dan menggunakan metode pembelajaran yang jauh berbeda yaitu dengan cara memeluk saya dan teman saya itu dari belakang untuk memposisikan memegang dan memukul dengan benar. Masalahnya si rekan senior itu ganteng, tinggi, putih, pokoknya seperti Nicholas Saputra lah dan dia adalah cowok kita bersama (cokiber) saya dan teman saya itu. Langsung jantung saya deg..deg..plas…

Jadi setiap kali ada berita, film, atau gambar tentang permainan baseball/softball, saya langsung teringat dengan kejadian itu. Cupu memang, tapi berkesan di hati ;D

16/06/2011 – part 1

Mayang

Senin, 13 Juni 2011

Habis Ide #30HariMenulis

Mau menulis apa lagi setelah memuat dua tulisan tadi siang? Huh,,sepertinya otak ini tidak sanggup kalau ditagih tulisan lebih dari 1000 kata per harinya. Saya kagum dengan Bung Mohamad Takdir yang bisa posting 3 tulisan hebat hari ini. Atau Evi Nurisra yang bisa menulis 3 tulisan juga dalam satu hari.

Kalau begini mana bisa jadi penulis handal, begitu baca hasil riset ngantuknya luar biasa. Berhenti mengeluh, Diah Mayangsari. Tulis saja apa yang kamu pikirkan saat ini didalam otakmu. Demi membayar hutang tulisan, apapun saya tulis jadinya.

Saya terpikir adik saya yang hari ini pertama kali kerja, makan apa nanti malam, apakah suami saya masih ngambek, pengen telepon ibu tapi tidak ada pulsa,,, (ini nulis apa curcol ya ;D). Terpikir untuk membuat satu cerita tentang wayang, tapi mandek. Bikin cerita nostalgia, nanti ada yang ge-er. Terlalu banyak ini isi otakku!tapi sulit dituangkan dalam tulisan. Coba saja bisa disimpan dalam memory disk, kemudian dicolokkan ke komputer, weeerrrr…langsung tertulis semua (iya, kalau komputernya nggak hang, udah bagus…).

Saya setuju dengan Brurr Cakrawalla Bebas, menulis ini mestinya tidak dijadikan beban. Tapi apa daya, daripada berhutang lagi. Maaf kawan-kawan jika saya tidak bisa produktif ataupun kreatif hari ini hiks…hiks…. ;’((

13/06/2011 – part 3

Mayang

Habis Ide #30HariMenulis

Mau menulis apa lagi setelah memuat dua tulisan tadi siang? Huh,,sepertinya otak ini tidak sanggup kalau ditagih tulisan lebih dari 1000 kata per harinya. Saya kagum dengan Bung Mohamad Takdir yang bisa posting 3 tulisan hebat hari ini. Atau Evi Nurisra yang bisa menulis 3 tulisan juga dalam satu hari.

Kalau begini mana bisa jadi penulis handal, begitu baca hasil riset ngantuknya luar biasa. Berhenti mengeluh, Diah Mayangsari. Tulis saja apa yang kamu pikirkan saat ini didalam otakmu. Demi membayar hutang tulisan, apapun saya tulis jadinya.

Saya terpikir adik saya yang hari ini pertama kali kerja, makan apa nanti malam, apakah suami saya masih ngambek, pengen telepon ibu tapi tidak ada pulsa,,, (ini nulis apa curcol ya ;D). Terpikir untuk membuat satu cerita tentang wayang, tapi mandek. Bikin cerita nostalgia, nanti ada yang ge-er. Terlalu banyak ini isi otakku!tapi sulit dituangkan dalam tulisan. Coba saja bisa disimpan dalam memory disk, kemudian dicolokkan ke komputer, weeerrrr…langsung tertulis semua (iya, kalau komputernya nggak hang, udah bagus…).

Saya setuju dengan Brurr Cakrawalla Bebas, menulis ini mestinya tidak dijadikan beban. Tapi apa daya, daripada berhutang lagi. Maaf kawan-kawan jika saya tidak bisa produktif ataupun kreatif hari ini hiks…hiks…. ;’((

13/06/2011 – part 3

Mayang

Kue Mbah Uti #30harimenulis

Saya adalah seorang sulung dari 3 bersaudara, perempuan semua. Saya besar dalam pengaruh almarhumah nenek saya atau yang biasa saya panggil Mbah Uti. Bukan pengaruh buruk, justru karena beliau saya kenal Bob Tutupoly, baca buku serba tahu (aq lupa judulnya, bisa bantu?), dekat dengan teman-temannya (ini yang saya patut acungin jempol, makin tua makin gila dansa dan nyanyi), tapi sayang tidak bisa menimba ilmu kue kering Lebaran khasnya yang pesanannya sering waiting list.

Dulu ketika nenek saya masih ada, setiap puasa atau seminggu sebelum puasa, nenek dan ibu saya sudah mulai membuat kue-kue kering. Biasa lah, sebagai perempuan saya dan adik-adik saya diharapkan belajar dengan cara membantu mereka berdua. Tapi say a betul-betul tidak bakat untuk membuat kue kering. Tingkat awal saya dan adik-adik saya diberi tugas untuk mengolesi kue-kue dengan kuning telur, biar mengkilap kata nenek saya. Hasilnya, kue-kue olesan saya hampir semuanya terlalu tebal dengan kuning telur. Setelah diomeli, akhirnya saya memilih untuk ganti tugas saja yaitu menaburi keju atau kacang mede keatas kue kaastengel atau kue kacang. Seperti yang anda bisa tebak, berantakan semua. Kena omel lagi deh.

Setelah beberapa tahun training, saya menyerah. Menyerah karena saya tidak ingin kue-kue kering itu jadi tidak enak atau tidak laku gara-gara saya. Kan modalnya besar juga. Apalagi setelah melakukan tugas, leher saya sakit tidak kepalang akibat terlalu lama menunduk (kan kejunya ngga boleh berantakan atau telurnya tidak boleh mleber).

Sebetulnya dengan membuat kue-kue kering itu, saya dilatih untuk sabar, telaten, dan teliti. Tapi dasarnya pencila’an koyo jaran, lebih baik mengerjakan hal lain. Anda tahu kepada siapa ilmu itu akhirnya diturunkan? Kepada adik saya yang paling kecil, dengan imbalan handphone baru. Hahahah… ;D

13/06/2011 – part 2

Mayang

Wujudkan mimpi #30HariMenulis

Wujudkan mimpi

Sejauh apa anda sudah melangkah untuk mencapai mimpi-mimpi anda? Ataukah anda lebih cenderung go with the flow? Seberapa penting mimpi itu bagi anda? Bila anda terhalang oleh kepentingan keluarga dalam mencapai mimpi tersebut, apa yang akan anda lakukan?

Pertanyaan-pertanyaan itu terlintas dalam benak saya ketika saya menonton Oprah yang diputar di Metro TV hari Minggu (12/16/2011) kemarin. Dalam tayangan tersebut diceritakan bagaimana seorang wanita bernama Tererai Trent dari Zimbabwe dapat mencapai mimpinya untuk sekolah di Amerika hingga jenjang doktoral dan dimulai pada usia pertengahan 20-an dan memiliki 5 orang anak. How’s that possible?? Itu juga kalimat yang langsung terpikirkan oleh saya. (Jika anda tertarik untuk mengetahui cerita ini lebih lanjut, anda bisa klik di Oprah.com)

Apa yang bisa saya pelajari dari kisah tersebut adalah yakin dengan mimpi yang kita punya. Bila kita takut lupa dengan mimpi kita, tuliskanlah. Sudah banyak orang yang mengatakan hal tersebut kepada saya. Tetapi dengan banyak kejadian di kehidupan saya, saya mulai tidak yakin dapat mencapai mimpi-mimpi tersebut.

Memang cara Allah mengingatkan memang unik. Disaat saya mulai tidak yakin, saya bertemu dengan Martine, seorang Life Coach yang mengatakan, keep believe in your dream, think positive of it, and it will come to you eventually. Ya, saya masih yakin dengan mimpi saya dan sudah berpikir positif untuk itu, tapi sejauh mana ya mimpi itu sudah berjalan?? Only God knows it. Jadi, keep believe in, positive thinking, and hard work.

13/06/2011 -part 1

Mayang

Jumat, 10 Juni 2011

Balada Ikan Asin #30harimenulis

Untuk ide tulisan kali ini saya dapatkan dari suami saya tadi malam. Dia menceritakan cerita saat makan siang kemarin. Alkisah seorang office assistant di kantornya diberi ikan asin oleh salah satu karyawan. Berhubung sudah jam makan siang, sang office assistant tersebut memanaskan ikan asin di microwave. Kebayang kan wanginya…. (hmm, kebayang sayur asem dan sambel terasi).

Tak diduga, melintaslah tenaga kerja ekspatriat di depan pantry dan berhenti di depan pintu. “What smell is this?”. Sesaat saya menduga pria bule tersebut tergiur dengan wanginya ikan asin ternyata belum sempat dijawab, beliau langsung melanjutkan “ It smells like zoo in here.” Alamak. Terbahak-bahak saya saat tahu respon beliau seperti itu.

Mas,, mas,, kalau anda belum tahu ikan asin itu merupakan warisan budaya Indonesia. Kalau sudah coba pasti tidak bisa lupa. Tapi kalau saya ingat-ingat, banyak makanan yang kita anggap enak untuk lidah orang Indonesia, dianggap menjijikkan bagi para “turis-turis” tersebut. Anda pasti bisa menyebutkan makanan-makanan itu.

Duh,, ikan asin,,ikan asin,, nasibmu..

10/06/2010

Mayang

Cinta Monyet #30harimenulis

Saya yakin semua orang punya cinta monyet-nya masing-masing. Sedikit penjelasan, menurut John Lee (1973), cinta monyet termasuk kedalam kategori Ludus dimana cinta dilihat sebagai permainan. Just for fun. Singkat kata, saya juga punya cerita tentang cinta monyet atau puppy love ini.

Saat itu saya duduk di kelas 4 SD, sebetulnya saya sudah kenal dengan orang ini dari kelas 1 SD, tapi baru tertarik saat di kelas 4 SD. Bagaimana tidak, dia satu-satunya anak laki-laki dengan keturunan Belanda (jaman dulu, susah kali nyari indo di lingkungan rumah saya ;p), matanya coklat, rambut coklat kehitaman, putih, pokoknya cakep lah menurut definisi saya waktu itu (kalau dipikir-pikir lagi, ngga mungkin saya bisa tertarik dengan anak laki-laki kerempeng macam itu). Tapi tak dinyana, selepas SD kita berpisah (hiks..hiks.. ;’( ).

Ternyata kalau sudah jodoh emang ngga kemana (cieee…). Saya bertemu lagi dengannya saat kelas 1 SMU, tidak di sekolah melainkan di tempat les bahasa Inggris. OMG!! Cakep beneerr….tapi seperti ada yang hilang ya. Tidak ada lagi muka memerah atau degdegseer yang gimana gitu. Semua terasa biasa saja. Padahal beliau ini pada waktu itu memenuhi standar untuk laki-laki yang pantas diperhatikan. Yah, namanya juga cinta monyet, seringkali tidak terbalas dan just for fun.

Mungkin memang tidak jodoh kali ya. Karena setelah kami berdua menyelesaikan les tersebut, saya dan dia berpisah untuk kedua kalinya dan hingga saat ini belum pernah bertemu atau kontak kembali. Kalau ada dari teman-teman yang mau membantu saya mencari dia, saya akan berterimakasih sekali. Bukan untuk membangun cinta monyet lagi tetapi silaturahmi (alesan aja kali ini ya ;D)

10/06/2011 – part 1

Mayang

Rabu, 08 Juni 2011

Foster & Manifesto #30HariMenulis

Pada tanggal 31 Mei 2011, saya mendapat pencerahan dari Nurvitria Mumpuniarti, sepupu yang sedang mencari ilmu. Pencerahan itu berupa grup musik baru dan sebuah manifesto.

Grup musik yang saya maksud itu adalah Foster The People ( Mungkin ada yang sudah mengetahui tentang grup musik ini jauh lebih dulu dari saya). Saya terpukau dengan musiknya yang beda dan liriknya yang terkadang depresif. Saya sebut pencerahan karena sebelumnya saya tidak pernah mendengar musik dengan genre seperti ini. Saya seperti mendobrak pakem dari genre musik yang saya suka dengarkan. Happening ? Ababil? Nah, I don’t care.

Komentar di kalimat terakhir ada hubungannya dengan pencerahan yang kedua yaitu Holstee Manifesto (yang ini saya yakin anda sudah pada tahu ;D). Satu kata untuk manifesto tersebut,….. Brilliant. Saya jatuh cinta dengan filosofi di manifesto tersebut, semua kalimat “gue banget”. Saya setuju untuk menjalani hidup seperti itu.

Sebetulnya inti dari tulisan ini adalah saya ingin memperkenalkan anda kepada pencerahan yang saya alami. Siapa tahu pencerahan saya bisa menjadi pencerahan anda juga. Au revoir.

08/06/2011

Mayang


Selasa, 07 Juni 2011

We all are Superman, aren’t we? #30HariMenulis

It’s been seven days for #30harimenulis program. And I’m promised myself to write in English one every ten days (hopefully i could manage that, wish me luck). So, I really need your correction, critics, or whatever you call it, to mend my writing capabilities in English. Ok, here we go.

If you don’t believe that you are a Superman, every one of you, please allow me to describe it to you.

We all were formed from sperm and ovum. Do you realize what sperm took along the way to concept ovum? They actually fast swimmer (eager, I suppose) and many, yet die fast. They have to beat their own brothers in competition to fertilize ovum and live in acidic environment while they do all things I describe before. Kind of what Superman doing, don’t you think?

And the mommies, have you ever consider how 13 cm-diameter of baby’s head able to get through that narrow passage? I know most of you murmuring “it’s God’s work”, but what I accentuate is on the impossibility. And about you and multitasking, just like Superman flew here and there, prioritize who need to be saved first. You are a Superman.

Have you ever heard about “mestakung”? It’s kind of life philosophy of Prof. Yohannes Surya which is acronym of seMESTA menduKUNG. He defined it as law of nature that when an individual or group is in critical condition, the universe (in this case the body's cells, the environment and everything around him) will support for him out of critical condition. Just like Superman. (If you want to know more about mestakung, just click here)

I remembered when I have to get to school in 10 minutes walking compared to usual 20 minutes trip. Impossible? But I did it, even though I drenched in sweat at school (For me it’s impossible because my bum is way too big, sorry). So many proverbs agree with my opinion. There’s nothing impossible. When there’s a will, there’s a way. And many more.

So do you still deny yourself as one of Superman in this world?

07/06/2011

Mayang

Senin, 06 Juni 2011

Miss you, Birdie #30HariMenulis

Nulis apa lagi ya hari ini… Setelah berjibaku dengan otak untuk menentukan tema tulisan kedua di hari ini, saya akhirnya memutuskan untuk menulis mantan burung tekukur saya.


Waktu saya SD, ayah saya yang doyan melihara burung, memberi piaraan jenis unggas tersebut ke masing-masing puterinya (saya tiga bersaudara perempuan semua..). Saya dititah untuk mengurus burung tekukur, adik saya nomor saru ayam jago, yang paling bontot kebagian burung nuri.


Tugas saya mudah, kalau pagi saya burung itu pindahkan dari belakang (teras belakang maksudnya) ke teras depan, mengisi makanannya kalau habis, semprotin kandangnya kalau banyak pup-nya, terus pindahin lagi ke belakang kalau sudah malam. Tekukurnya keren. Setiap kali ada tamu atau orang yang mau buka pintu gerbang, tekukurnya berbunyi kruu..kruu..kruu..kruu… jadi hemat bel (hehehe…). Burungnya ngga rewel, jarang sakit, pokoknya favorit banget. Beda sama adik saya yang mengurus ayam jago. Kalau sudah sakit, repotnya bukan main. Harus dikejar, dipeluk, dan dicekokin kalau mau minumin obat. Hadeuhh…


Tapi saat saya pulang sekolah (waktu itu saya sudah kelas 2 SMU), ibu saya memberitahu berita sedih. Tekukur-ku pergi. Hwaaa.. Ternyata pagi harinya setelah ayah saya mengganti tempat air, beliau lupa untuk mengunci pintu kandangnya, ya lepaslah burung itu. Saya masih berharap sore harinya burung itu akan pulang tapi yang sudah berlalu biarlah berlalu. Mungkin burung itu protes setelah tidak ada peningkatan fasilitas selama hidup di kandangnya atau ingin hidup mengembara.


Miss you, birdie


06/06/2011 – part 2

Mayang

Boys & Girls #30HariMenulis

Paling males kalau harus bayar utang.. ya seperti tulisan ini buat bayar utang tulisan yang kemarin.

Hari ini saya ikut pelatihan gender dan sexual reproductive health dikantor. Kalau mendengarkan fasilitatornya saya jadi teringat percakapan saya dengan suami saya, Aji, 6 bulan yang lalu tentang hobi belanja perempuan. Kurang lebih percakapannya seperti transkrip dibawah ini.

Aji

Mice (ini panggilan dia ke saya), gua ngga ngerti kenapa sih cewe doyan banget belanja ? padahal baju udah banyak banget, tapi kalo liat diskon kaya orang kalap.

Me

Nggak semuanya kali, Yah. *I’m rolling my eyes*

Aji

Iya, tapi umumnya cewe suka belanja kan?

Me

Belanja kan juga bisa ngelepasin stress

Aji

yah, ngabisin duit doing kalo tiap stress belanja

Me

Lah, kita (perempuan, -red) kan belanja juga karena kalian (laki-laki)?

Aji

Nggak mungkin lah.

Me

Perempuan belanja supaya dirinya lebih menarik. Buat siapa? Ya, buat laki-laki

Aji

Kan aq ngga pernah minta

Me

Masa ? Buktinya kalau liat cewe-cewe semlehoy langsung ngeliatin. Paling demen kalo liat gambar-gambar cewe berbaju seksi.

Aji

Nggak ah.

Me

Kalau mau cewenya cantik terus, emangnya ngga pake usaha kalau mau cantik? Ya harus beli baju, kosmetik, de el el kalo mau dibilang cantik ama suaminya ato pacarnya.

Aji

Mmm?? Tapi kalau beli-beli gitu harus yang mahal ya?

Me

Nggak juga. Gimana yang cocok aja. Mungkin cocoknya pas sama yang mahal

Percakapan itu masih terus berlanjut tapi sudah tidak ada kaitan dengan tulisan ini.

Dari situ saya menyadari betapa kita (laki-laki & perempuan) terikat dengan konstruksi sosial atau peran gender. Kalau yang doyan belanja itu perempuan. Laki-laki main tembak-tembakan. Laki-laki yang banyak pacar atau gonta-ganti pacar disebut playboy atau laku. Perempuan yang gonta-ganti pacar disebut piala bergilir.

Huft,, don’t you guys tired with all these? Tapi walaupun begitu, setidaknya konstruksi itu sudah mulai bergeser. Dimana sekarang sudah banyak ayah yang ikut terlibat di rumah tangga. Dari urusan memasak, bersih-bersih, sampai mandiin anak. Perempuan juga sudah tidak dituntut harus bisa masak seperti koki restoran, mempunyai kebebasan untuk menikah atau tidak, masih banyak yang lain (mungkin anda jauh lebih tahu dari saya ;D)

Jadi, maksud saya dengan tulisan ini adalah saya ingin mengajak anda untuk merenungi betapa konstruksi sosial atau peran gender dapat membatasi anda atau membuat anda sebagai korban hanya gara-gara konstruksi sosial itu.

06/06/2011 – pt.1

Mayang

Sabtu, 04 Juni 2011

For Lust of the Game #30HariMenulis

Judul diatas sekilas mirip dengan film yang berjudul “For Love of The Game” yang dibintangi oleh Kevin Costner (I like him better in Dancing with Wolves actually). Film itu menceritakan seberapa pun tuanya sang pitcher, bila dia yakin, dia mampu memberikan permainan yang sempurna. Seperti kata Ai Imani “Whatever I do, I should give it my all.”

Tapi sebetulnya judul diatas jauh dari itu. Kan beda antara love dan lust. Tulisan ini terinspirasi dari kegiatan saya bersama putri saya hari ini. Apakah anda pernah atau memiliki permainan yang membuat anda selalu bersemangat dan lupa sekitarnya? Permainan yang bisa membuat anda adu mulut dengan anak anda, kakak/adik, atau sahabat anda? Saya punya. Permainan itu adalah….LEGO.

Saya bahkan hampir tidak bisa mempercayai kalau tadi sore saya bisa bertengkar dengan anak saya karena bahan untuk membuat kuda dari LEGO (Now, who’s the kid?). Bahannya kurang sehingga saya mengomel kepada anak saya (ini benar-benar tidak disengaja dan tidak sadar ;’{ ). Saya seperti orang ‘gila’ jika sudah diberi mainan tersebut. Saya bahkan lupa waktu, lupa dengan siapa saya bermain, pokoknya apa yang saya ingin buat harus bisa terwujud.

Ini yang saya maksud dengan for lust of the game. Sampai hati saya bertengkar dengan anak saya gara-gara permainan itu, sampai saya lupa diri. Saya sudah mengucapkan maaf kepada anak saya sesaat setelah bertengkar (untungnya tidak sampai menangis…). I’m sorry baby, really sorry.

Nah, sekarang saya tanyakan lagi kepada anda, Do you have ‘the game’?

04/06/2011

Mayang