Kemarin saya pergi ke Bandung bersama suami dan saudara-saudara ipar saya beserta keponakan saya yang 5 bulan. Saya langsung teringat waktu saya baru saja memiliki anak. Perjalanan saya terjauh adalah dari Bogor ke Tangerang dan perasaan saya saat itu barang bawaan saya tidak sebanyak bawaan keponakan saya kemarin.
Karena melihat barang bawaan yang banyak itu saya jadi berpikir seperti apa ya waktu ibu saya membawa saya dan adik-adik saya, dulu waktu kami masih kecil, bepergian. Saya terbayang ibu saya membawa saya yang berusia 5 tahun, adik saya Kiki yang berusia 3,5 tahun, dan adik saya paling kecil Riri yang berusia 2 tahun. Saya cuma bisa begidik ngeri.
Kata orang, punya anak dalan jarak dekat saja supaya kalau repot sekalian. Cuma kalau dari bayangan saya yang tadi, yang ada malah total chaos. Pasti pernah ketemu kan balita-balita yang notabene tidak pernah bisa diem. Yang paling saya ingat adalah kata-kata nenek saya (alm.) “Durung mingkem” kalau saya atau adik saya jatuh atau melakukan sesuatu yang tidak pantas dilakukan padahal sudah diberitahu sebelumnya. Namanya juga anak-anak (ngeles nih ;D).
Kata orang anak juga punya rejeki masing-masing, kata orang juga, lebih baik direncanakan, tapi kata BKKBN “dua anak lebih baik”. Jadi mana yang benar? Kalau buat orang kebobolan bagaimana? Menulis soal perencanaan punya momongan bisa bikin mulut saya berbusa mengungkapkan mengapa saya belum ingin memiliki anak lagi setelah 6 tahun Athayya lahir. Memang kalau kejauhan beda umurnya, kasihan juga. Tapi kepala saya tidak berhenti menghitung perencanaan uangnya. Mumet..mumet…