Selasa, 28 Februari 2017

Memory of Milkshake

Kalau dulu ditanya soal milkshake favorit, pasti saya akan jawab milkshake coklat dari salah satu restoran cepat saji yang pernah ada di Indonesia. Ga usah sebut merek ya, pertama nanti jadi endorse ngga tepat sasaran yang kedua nanti ketahuan umur saya ;D. Balik lagi ke milkshake nih, milkshake yang dimaksud tadi itu rasanya nyoklat banget dan... ga bisa dijelaskan dengan kata-kata deh saking enaknya. Tapi sejak restoran cepat saji itu sudah cabut dari Indonesia, ya wassalam juga milkshake favorit saya.

Dulu saya sempet penasaran banget cara bikin milkshake si restoran cepat saji itu. Saya sempat ngulik sendiri bahan-bahan buat milkshake itu (waktu itu internet yang bisa pakai cuma orang kantor → yah.. ketahuan dah umurnya). Resepnya dapat dari majalah ibu saya atau buku resep. Tapi setelah menghabiskan banyak es krim, susu, gula, dan kawan-kawan, rasa milkshake favorit itu ngga pernah dapat.

Waktu saya mulai kuliah, demam ice bubble atau bubble tea dimulai. Saya iseng-iseng coba, tapi memang dasarnya teh dan susu pasti jauh dari harapan soal rasanya dan harganya pun ngga murah untuk ukuran kantong mahasiswa yang ngepas kaya saya. Ngga lama ada satu merek yang keluar supaya minuman ice bubble bisa dinikmati sama semua orang termasuk kantong anak sekolah. Ya, merek itu bernama Pop Ice.

Tadinya saya sempat skeptis sama merek ini, masa iya minuman murah bisa saingan dengan ice bubble yang mahal tadi. Dan muncul pikiran, kalau murah harganya gimana rasanya, pasti ga jelas. Mana isinya meises, kacang, keping coklat atau bubble. Maka selama kuliah saya tidak pernah berkenalan dengan Pop Ice.

Perkenalan saya dengan Pop Ice justru setelah saya tinggal di Tangerang. Di dekat rumah mertua ada kafe minuman yang bikin Pop Ice jadi jagoan jualannya, dan kafe itu rame setiap harinya. Pacar adik ipar kalau main ke rumah pasti minta dianterin ke kafe itu, dia bilang “ngga ada mba tempat lain yang bikin Pop Ice seenak disitu. Bikin kangen”. Masa iya, seenak itu Pop Ice sampai-sampai bikin orang kangen. Satu hari, pacar adik saya itu traktir Pop Ice dari kafe itu untuk satu rumah. Awalnya saya sempat malas kalau harus minum Pop Ice, tapi maaf pamali kalau buang-buang makanan.. dosa nanti ;P. Akhirnya saya ambil deh Pop Ice yang coklat, rasa yang menurut saya paling aman untuk minuman dingin.

Alamak.... Ternyata rasanya hampir mirip sama milkshake favorit saya itu walaupun agak encer dan terlalu banyak isi. Wah, kalau begini harus saya coba bikin sendiri, batin saya. Tidak pakai waktu lama, sore saya ke pasar untuk beli Pop Ice Chocolate satu renceng. Seminggu saya ngulik resep milkshake dengan Pop Ice itu. Akhirnya dengan dua sachet Pop Ice plus satu sendok makan krimer ditambah es batu dan sedikit gula, rasanya mirip banget dengan milkshake coklat punya restoran cepat saji yang sudah tidak ada itu. Ngga salah deh slogannya, Pop Ice Idolaku. Sampai sekarang kalau teman-teman anak saya main ke rumah, Pop Ice selalu siap sedia dan dijamin langsung bersih gelas-gelasnya. Favorit mereka ngga hanya coklat, dari vanila sampai doger pun mereka minum. Bener deh POP ICE IDOLAKU...

Jumat, 27 Januari 2017

DuoBaby, Penyelamat Napas (dan dompet ;D)



Hari ini saya mau cerita pengalaman saya menggunakan salah satu produk dari OMRON yaitu OMRON DuoBaby. Pengalaman ini dari riwayat kesehatan anak saya yang selalu bermasalah dengan sistem pernapasannya sejak pindah rumah ke Bandung saat dia berusia 15 bulan. Gangguan pernapasannya ini disebabkan karena lokasi rumah kontrakan yang kami tempati posisinya ada di sisi jalan tol. Terbayang kan banyaknya debu dan polusi yang ada di lingkungan kami.

Memang sebelum pindah ke Bandung, anak saya sering batuk pilek dan terapi gangguan pernapasan yang dianjurkan oleh dokternya adalah nebulizing. Tetapi kebutuhan nebulizer dan terapi gangguan pernapasannya sekitar dua sampai tiga bulan sekali. Tidak sampai sebulan pindah ke Bandung, anak saya sudah bertamu ke dokter anak karena gangguan pernapasan. Setiap satu sampai 1,5 bulan, kami rajin menyambangi dokter anak untuk berobat dan terapi gangguan pernapasan, bisa tekor ini gara-gara rajin ke dokter...

Atas usul dokter dan tidak teganya saya melihat kondisi anak saya, saya dan suami membeli OMRON Nebulizer yaitu OMRON DuoBaby selagi kami mencari rumah di daerah yang minim polusi. Kenapa saya pilih OMRON DuoBaby? Yang utama sih karena ada pengisap hidung untuk mengatasi sumbatan di hidung yang biasa terjadi pada bayi. Masih banyak fungsi OMRON DuoBaby seperti terapi gangguan pernapasan saluran atas dan bawah, higienis, mudah dibersihkan, dan tidak menggunakan material sekali pakai. Jadi cukup ekonomis dan praktis untuk digunakan.

Setelah mempunyai OMRON DuoBaby, anak saya tidak perlu menunggu antrian di dokter untuk nebulizing. Dengan obat resep dari dokter, anak saya tidak lagi rewel saat pilek. Dan setelah memiliki rumah di daerah pegunungan Manglayang, OMRON DuoBaby milik saya sedang ‘menginap’ ke rumah sepupu yang memiliki bayi berusia satu tahun dan putra yang mengidap asma. Hebat kan OMRON DuoBaby, selain bisa dipakai untuk mengatasi gangguan saluran pernapasan bagian atas bisa juga digunakan untuk gangguan saluran pernapasan bagian bawah contohnya asma. Memang Omron Nebulizer adalah terapi pernapasan terbaik yang bisa dimiliki.

Selasa, 22 November 2016

Usia Cantik Pemberi Inspirasi




Kecantikan seseorang tidak hanya terlihat secara fisik. Sebagian dari kita pasti setuju dengan kalimat, kecantikan yang sebenarnya berasal dari dalam diri. Hal itu yang saya lihat dan rasakan dari sosok bernama dr. Nurlan Silitonga. Seorang dokter umum yang jauh dari sosok klinis yang dingin. Beliau adalah sosok yang hangat, ceria, dan memiliki mimpi untuk sehat untuk semua orang.

Untuk mewujudkan mimpinya tersebut, beliau mendirikan sebuah klinik umum di Jakarta Pusat. Beliau menginginkan semua orang teredukasi mengenai masalah kesehatan yang mereka hadapi. Terlebih mengenai infeksi menular seksual (IMS) dan HIV/AIDS yang merupakan masalah kesehatan yang terbentur dengan nilai dan asumsi masyarakat. Memang lebih baik mencegah daripada mengobati, tetapi bila sudah sakit kan harus diatasi.

Tidak sedikit prestasi dan penghargaan yang beliau dapatkan dari pemerintah. Tetapi beliau tidak pernah mau memamerkannya. Baginya yang pantas ditunjukkan adalah hasil kerja keras tim, karena tanpa tim mimpi beliau tidak akan terwujud. Sehingga sebagai salah satu upaya beliau untuk mewujudkan mimpi sehat untuk semua, beliau berbagi ilmu dengan dokter-dokter umum lain untuk memotivasi bahwa dokter umum dapat menjadi entrepreneur sambil bekerja sosial.

Tidak sebatas memiliki klinik umum, menyadari tingginya biaya operasional klinik swasta, beliau pun  membangun klinik yang ramah untuk masyarakat menengah bawah tetapi tidak mengurangi kualitas pelayanan yang diberikan dengan bantuan donor. Beliau menginginkan setiap daerah memiliki klinik murah tetapi ramah dan berkualitas yang memperhatikan kesejahteraannya baik bagi pasiennya maupun tenaga kesehatannya. Dengan kegigihannya, sudah banyak klinik swasta dan pemerintah yang belajar dari beliau untuk membangun klinik dengan kriteria tersebut.

Beliau menginspirasi saya bahwa membantu sesama harus dilakukan terus menerus tanpa kenal lelah dan jangan sampai malas untuk belajar. Karena hanya dari belajar, kita mendapatkan solusi untuk masalah yang kita hadapi. Dan beliau pun membuka mata saya bahwa si sakit  tidak sebatas aku dan kamu, tetapi masih ada mereka, dia, dan kita. Beliau membuktikan bahwa usia bukan hambatan untuk berkarya untuk negeri, masyarakat, dan keluarga. Di #UsiaCantik-nya saat ini, beliau sudah menjadi mentor, sahabat, ibu, dan kakak tidak hanya untuk saya tetapi semua orang di sekitarnya.

Jika ada kemauan, seberat apapun hambatan yang dihadapi, pasti akan ada jalan.

Lomba blog ini diselenggarakan oleh BP Network dan disponsori oleh L’Oreal Revitalift Dermalift

Rabu, 05 Juni 2013

Old Gossip #30HariMenulis


I realize this story will come again either now or later. 

Keluar dari kebiasaan bisa mendatangkan hal yang tidak terduga. Ini ada kaitannya dengan cara saya pulang dari kantor setiap hari. Sejak 2 bulan yang lalu saya sudah setia menjadi komuter dengan menggunakan jasa kereta rangkaian listrik (KRL) untuk berangkat dan pulang kantor. Rute yang dilayani oleh Commuter Line selain domisili saya di Tangerang salah satunya adalah Bogor.

Untuk saya Bogor adalah tempat saya tumbuh besar. Mulai dari 3 tahun sampai 18 tahun saya disana. Jadi teman-teman saya sebagian besar berasal dari kota Bogor. Terkadang saya bertemu dengan teman semasa SMA bahkan SMP diatas kereta saat pulang, karena banyak penduduk Bogor yang biasanya pergi kearah Tanah Abang dulu supaya dapat tempat duduk.

Seperti tadi malam ada kejutan menyenangkan, saya bertemu teman SMA. Setelah menanyakan kabar masing-masing, mulai deh kita bernostalgia tentang teman-teman semasa SMA.

E : Yang, lu masih kontak sama Arban?
Gw : Masih.
V : Sering ketemuan?
Gw : Ngga. Gw udah ngga ketemu Arban, berapa lama ya? 7 tahun kali.
E : Ooo.. Tapi masih tetep kontak?
V : Eh klo Anan? Siapa lagi ya dulu?
Gw : Masih kontak kok. Klo Anan udah jarang. Paling Gibthi, Dorceu,..

Dan mengalirlah percakapan itu sampai akhirnya gw harus turun untuk transit di Duri. Awalnya saya tidak memperhatikan, tapi setelah teringat lagi percakapan itu saya jadi penasaran. Kenapa pertanyaan awalnya tentang Arban. No offense, G. Tapi setelah saya ingat-ingat setiap kali bertemu dengan teman SMA dua pertanyaan pertama tidak pernah lepas dari tokoh ini, Arban maksudnya.

Dan tebersitlah pertanyaan di kepala saya? What happened actually when I’m in high school? Entah karena saya terlalu naïf atau budek waktu itu, tapi G, is there any issues about us back then? Hell, I carry this question until I slept last night.

Gossip never die. It just lie under the surface, waiting the right moment to soar above.

5 Juni 2013  #5

Mayang

Selasa, 04 Juni 2013

The "Lebay" Tiger Series #30HariMenulis


Twilight with Rick Riordan taste.

Biasanya saya hanya bisa merekomendasikan buku sebatas dari apa yang menarik dari buku itu. Awalnya saya melihat buku Tiger’s Curse di Gramedia Teraskota. Dengan embel-embel New York Times Bestseller, sukses menarik perhatian saya untuk melihat resensinya. Ceritanya cukup menarik walaupun saya merasa pernah membaca atau melihat cerita yang seperti ini. Resensi seri pertamanya langsung saya kutip dari bukunya,

The last thing teenager Kelsey Hayes thought she'd be doing over the summer was meeting Ren, a mysterious white tiger and cursed Indian prince! When she learns she alone can break the Tiger's curse, Kelsey's life is turned upside-down. The unlikely duo journeys halfway around the world to piece together an Indian prophecy, find a way to free the man trapped by a centuries-old spell, and discover the path to their true destiny.

Berhubung saya pecinta genre petualangan dan fantasi jelas buku ini masuk kedalam daftar pencarian saya. Setelah mencari kesana kemari, akhirnya saya pun sukses mendapatkan keempat seri-nya. Kalau menurut penerbitnya serial ini tamat di buku keempat, walaupun pengarangnya – Ms. Houck – berniat menulis buku kelima.

Legenda India jarang digali oleh pengarang Amerika, jadi hal itu menjadi sisi positif serial ini (selain dengan penggambaran yang cukup detil untuk Ren dan Kishan, yummy males!). Serial ini didasari pada satu sosok legenda India yaitu Durga, seorang dewi bertangan delapan dengan senjata yang berbeda di tiap tangannya dan takdirnya untuk sebagai Mahishasura Mardini . Selain perjalanan mencari senjata-senjata Durga untuk memecah kutukan macan pada Ren dan Kishan, serial ini juga memfokuskan kepada cinta segitiga tokoh utamanya yaitu Kelsey, Ren, dan Kishan.

Serial ini akan menarik jika konflik diantara ketiga tokoh utamanya tidak melulu didominasi oleh kegalauan yang diderita oleh Kelsey, yang membuat saya bingung. Karena buat saya (dan sebagian besar pembaca serial ini) Love isn't who you can live with, it's who you can't live without. Mungkin bagi penulis konflik yang sederhana kurang panjang dan membumbui cerita petualangannya sendiri. Dan dengan genre young adult, terasa jelas kebimbangan si penulis untuk menggambarkan hubungan antar tokoh utama untuk mengarah ke dewasa/adult.

Saya sendiri hanya tertarik sampai seri kedua, tetapi untuk mengerti akhir ceritanya, mau tidak mau saya harus terus sampai seri keempatnya. Walaupun dengan twist yang membuat saya bernapas lega di akhir buku keempat, saya cukup hangover dengan kegalauan Kelsey yang mengingatkan saya dengan Bella Swan.

4 Juni 2013 #4

Mayang

P.S. Berhubung ini review buku pertama saya, mohon kritik dan sarannya ya ^_^