Rabu, 05 Juni 2013

Old Gossip #30HariMenulis


I realize this story will come again either now or later. 

Keluar dari kebiasaan bisa mendatangkan hal yang tidak terduga. Ini ada kaitannya dengan cara saya pulang dari kantor setiap hari. Sejak 2 bulan yang lalu saya sudah setia menjadi komuter dengan menggunakan jasa kereta rangkaian listrik (KRL) untuk berangkat dan pulang kantor. Rute yang dilayani oleh Commuter Line selain domisili saya di Tangerang salah satunya adalah Bogor.

Untuk saya Bogor adalah tempat saya tumbuh besar. Mulai dari 3 tahun sampai 18 tahun saya disana. Jadi teman-teman saya sebagian besar berasal dari kota Bogor. Terkadang saya bertemu dengan teman semasa SMA bahkan SMP diatas kereta saat pulang, karena banyak penduduk Bogor yang biasanya pergi kearah Tanah Abang dulu supaya dapat tempat duduk.

Seperti tadi malam ada kejutan menyenangkan, saya bertemu teman SMA. Setelah menanyakan kabar masing-masing, mulai deh kita bernostalgia tentang teman-teman semasa SMA.

E : Yang, lu masih kontak sama Arban?
Gw : Masih.
V : Sering ketemuan?
Gw : Ngga. Gw udah ngga ketemu Arban, berapa lama ya? 7 tahun kali.
E : Ooo.. Tapi masih tetep kontak?
V : Eh klo Anan? Siapa lagi ya dulu?
Gw : Masih kontak kok. Klo Anan udah jarang. Paling Gibthi, Dorceu,..

Dan mengalirlah percakapan itu sampai akhirnya gw harus turun untuk transit di Duri. Awalnya saya tidak memperhatikan, tapi setelah teringat lagi percakapan itu saya jadi penasaran. Kenapa pertanyaan awalnya tentang Arban. No offense, G. Tapi setelah saya ingat-ingat setiap kali bertemu dengan teman SMA dua pertanyaan pertama tidak pernah lepas dari tokoh ini, Arban maksudnya.

Dan tebersitlah pertanyaan di kepala saya? What happened actually when I’m in high school? Entah karena saya terlalu naïf atau budek waktu itu, tapi G, is there any issues about us back then? Hell, I carry this question until I slept last night.

Gossip never die. It just lie under the surface, waiting the right moment to soar above.

5 Juni 2013  #5

Mayang

Selasa, 04 Juni 2013

The "Lebay" Tiger Series #30HariMenulis


Twilight with Rick Riordan taste.

Biasanya saya hanya bisa merekomendasikan buku sebatas dari apa yang menarik dari buku itu. Awalnya saya melihat buku Tiger’s Curse di Gramedia Teraskota. Dengan embel-embel New York Times Bestseller, sukses menarik perhatian saya untuk melihat resensinya. Ceritanya cukup menarik walaupun saya merasa pernah membaca atau melihat cerita yang seperti ini. Resensi seri pertamanya langsung saya kutip dari bukunya,

The last thing teenager Kelsey Hayes thought she'd be doing over the summer was meeting Ren, a mysterious white tiger and cursed Indian prince! When she learns she alone can break the Tiger's curse, Kelsey's life is turned upside-down. The unlikely duo journeys halfway around the world to piece together an Indian prophecy, find a way to free the man trapped by a centuries-old spell, and discover the path to their true destiny.

Berhubung saya pecinta genre petualangan dan fantasi jelas buku ini masuk kedalam daftar pencarian saya. Setelah mencari kesana kemari, akhirnya saya pun sukses mendapatkan keempat seri-nya. Kalau menurut penerbitnya serial ini tamat di buku keempat, walaupun pengarangnya – Ms. Houck – berniat menulis buku kelima.

Legenda India jarang digali oleh pengarang Amerika, jadi hal itu menjadi sisi positif serial ini (selain dengan penggambaran yang cukup detil untuk Ren dan Kishan, yummy males!). Serial ini didasari pada satu sosok legenda India yaitu Durga, seorang dewi bertangan delapan dengan senjata yang berbeda di tiap tangannya dan takdirnya untuk sebagai Mahishasura Mardini . Selain perjalanan mencari senjata-senjata Durga untuk memecah kutukan macan pada Ren dan Kishan, serial ini juga memfokuskan kepada cinta segitiga tokoh utamanya yaitu Kelsey, Ren, dan Kishan.

Serial ini akan menarik jika konflik diantara ketiga tokoh utamanya tidak melulu didominasi oleh kegalauan yang diderita oleh Kelsey, yang membuat saya bingung. Karena buat saya (dan sebagian besar pembaca serial ini) Love isn't who you can live with, it's who you can't live without. Mungkin bagi penulis konflik yang sederhana kurang panjang dan membumbui cerita petualangannya sendiri. Dan dengan genre young adult, terasa jelas kebimbangan si penulis untuk menggambarkan hubungan antar tokoh utama untuk mengarah ke dewasa/adult.

Saya sendiri hanya tertarik sampai seri kedua, tetapi untuk mengerti akhir ceritanya, mau tidak mau saya harus terus sampai seri keempatnya. Walaupun dengan twist yang membuat saya bernapas lega di akhir buku keempat, saya cukup hangover dengan kegalauan Kelsey yang mengingatkan saya dengan Bella Swan.

4 Juni 2013 #4

Mayang

P.S. Berhubung ini review buku pertama saya, mohon kritik dan sarannya ya ^_^

Enchanted #30HariMenulis


Bukan..  Saya bukan mau ngebahas atau mengulas film yang dibintangi sama Amy Adams dan James Marsden. Saya mau bahas salah satu kelemahan saya selain tikus. Mudah terpesona.

Jujur, kalau sudah terpesona dengan sesuatu, pikiran saya blank untuk hal lain. Out of control of myself. Out of focus. Reaksi saya bisa dari gemetaran, sesak napas, gagap, hingga duduk terdiam. Ridiculous, isn’t it? Kalau sedang liburan sih ngga apa-apa, tapi kalau lagi kerja, itu yang bikin puyeng. Secara ya di kantor saya sering sekali didatangi oleh KW 1-nya Liam Hemsworth, Eric Bana, dkk. Belum lagi klo yang lokal, ampun deh.

Ada baik buruknya sih. Baiknya kalau saya lagi bad mood and stacked up, cukup dengan kedatangan selebriti cap go meh ini bisa membuat saya lupa dengan apapun yang bikin saya bad mood (Ya.. ngga manjur juga setiap saat). Apalagi kalau mereka ramah, hmm.. makin terpesona lah saya.

Yang bikin gila sih hari ini. Masa saking miripnya sama Chace Crawford, sampe salah ngitung duit. Alamakjan. Bisa bikin tongpes ini mah. Sayangnya sampai sekarang saya sulit untuk mengatur reseptor otak saya untuk terpesona dalam tingkat yang wajar (yang ngga bikin kerugian finansial, fisik, ataupun mental). Ada yang punya saran?

4 Juni 2013  #3

Mayang

Senin, 03 Juni 2013

How Old Are You? #30HariMenulis


Biasanya sih ga pernah ada yang nanyain umur saya kalau lagi saya biasa aja. Tapi giliran saya bilang Pink Floyd, Frank Sinatra, atau Duran Duran, banyak yang nanya “kelahiran tahun berapa?” (berarti masih untung ya keliatan muda ^_^).  Giliran nyanyiin lagu SuJu atau theme song-nya Thomas and Friends, pada heran “kaya ABG sih lu..” No offense, but I don’t give a damn with it.

Buat saya seneng lagu itu ngga harus sesuai dengan umur, dengan jenis kelamin, atau dengan status saya sebagai ibu beranak satu. Mau mainstream atau indie, kalau enak di telinga ya pasti nyantol lah. Terkadang saya ngga habis pikir, kenapa harus membatasi pilihan kalau begitu banyak pilihan? Tapi ngejawab pertanyaan sendiri, semua balik lagi ke selera masing-masing.

Sama seperti selera ke buku. Ada yang doyan fantasi, romance, detektif, atau petualangan. Oia mumpung OOT, saya ucapkan selamat ke mas Adham atas terbitnya Dead Smoker’s Club (bener ga nulisnya?)


Moral cerita adalah buka mata, buka telinga, buka hati dan perluas wawasan. Ngga semua yang menurut kita ndeso, ngga bisa bikin kita jatuh hati.


3 Juni 2013 #2
Mayang

Tikus Oh Tikus #30HariMenulis

Biar imut gini, tetep aja tikus!!

Bismillah… Kata mba Evi, patut ditulis. Tapi buat saya ya belum tentu pas dengan selera yang baca.

Alkisah hari Minggu kemarin suami gw pas di rumah dan ngajak beberes lemari buku. Gw udah bad feeling ini sama rencana ini. Soalnya udah cium bau-bau aneh yang udah pernah gw cium di rumah mertua dan ujung-ujungnya malah nemu tikus.

Gw PARNO bener sama namanya tikus. Apalagi di rumah yang sekarang, udah berapa tikus yang anumerta di bak mandi, di belakang kompor. Gw pengen pindah…. Tapi apa daya suami gw keukeuh disitu. Berapa kali pencegahan pun ga ngaruh sama tikus-tikus itu. Give me spider, cockroach, any insects just not rodent please!

Singkat cerita, suami gw minta gw nurunin buku-buku yang ada di rak atas selama dia ke warung beli rokok. Selama nurunin buku-buku itu, bau-bau aneh itu makin menusuk hidung gw. Gw lirik ke atas, kanan dan kiri, takut ada yang lompat kearah gw. Karena tingkat kecurigaan gw makin tinggi, begitu rak atas beres - dan Alhamdulillah ga ada yang lompat - gw memutuskan untuk berhenti. Begitu suami gw pulang, gw minta dia bantuin nurunin buku yang ada di rak bawah.

Suara hati itu mestinya diikutin, bukan dicuekkin. Bener aja, begitu laki gw mau narik buku dia nyeletuk, “ eh ada nih, pantesan bau”. Ngga butuh diliat, gw langsung lari ke kamar dan tutup pintu sambil ber-sumpah serapah. Suami gw malah ketawa ngeliat gw gitu dan ngerjain gw sambil buka pintu (kamar gw ga ada kuncinya!). It’s not funny sir, to be waggled something you hate most in front of you!

MONYONG!! Jantung rasanya udah mau nembus dada karena saking takutnya. Ngga apa-apa deh kalau gw disuruh beres-beres abis korban diangkat dari TKP, tapi jangan suruh gw ngangkat korban. 

Gara-gara tikus, kerjaan nambah, ngantuk, ngutang tulisan ke #30HariMenulis

3 Juni 2013 #1

Mayang