Rabu, 13 Maret 2013

Kopiku : Dulu dan Sekarang


Percintaan saya dengan kopi dimulai saat saya duduk di kelas 1 SD. Ibu saya sudah membiasakan saya untuk meminum susu sebelum berangkat sekolah. Hanya saja, saat berkenalan dengan kopi, ibu mengganti susu bubuk dengan susu murni. Baunya yang "bau sapi" sukses membuat saya eneg dan perlahan tapi pasti saya pun "pura-pura" melupakan ritual pagi hari itu. Tapi seperti pada umumnya ibu-ibu, ibu saya cukup kreatif (dan intuitif menurut saya) dan menawarkan saya untuk menambahkan sedikit kopi hitam ayah kedalam susu itu.

Ibu saya punya bakat menjadi mak comblang rupanya . Saya sukses jatuh hati dengan kopi susu racikan ibu. Sejak saat itu percintaan saya dengan kopi pun dimulai. Saya awalnya hanya menyukai kopi hitam merek lokal yang biasa diminum oleh ayah saya, tetapi saat SMU saya mulai mencoba racikan baru. Coklat dicampur dengan kopi, pancake dengan kopi, membujuk ibu saya membuat kue dengan kopi. Apapun yang mungkin dicampur dengan kopi, saya campurkan. Kebiasaan ini berlanjut sampai saya kuliah dan tinggal sendiri. Baik di pagi hari ataupun mengerjakan tugas kuliah hingga larut malam, saya selalu ditemani oleh kopi.

Mungkin keluarga dekat saya menilai kegilaan saya dengan kopi itu sebagai kecanduan. Adik ipar saya   yang sering keluar kota pun dengan setia menghadiahi saya dengan kopi setiap pulang. Adik saya pun merelakan satu bagian hariannya untuk Starbucks kepada saya, agar saya dapat menenteng Grande Caramel Macchiato sebelum masuk kantor. 

Kopi adalah cinta dan hidup. Kopi adalah kegilaan dan ketenangan. Kopi adalah relaksasi. Kopi adalah obat tidur. Tetapi percintaan saya dengan kopi saat ini mulai memudar. Dengan penyakit ginjal, dokter meminta saya untuk mengurangi, bahkan kalau bisa menghentikan konsumsi kopi. Saya saat itu hanya bisa tercenung dengan permintaan dokter . Dalam hati saya berpikir, mungkin ini akhir dari temu kangen saya dengan kopi. 

Dengan niat sehat dan mematuhi perintah dokter, satu hari saya bergegas ke Starbucks untuk memakai hospitality adik saya dan memesan Hojicha Tea Latte. Maaf kepada Starbucks, saya masih belum bisa menikmati racikan kopi anda. Dasar lidah kopi, mungkin kalau saya pecinta teh saya akan langsung kesengsem dengan teh itu. 
Anyway, sekarang percintaan ini layaknya pacaran backstreet. Saya kucing-kucingan dengan dokter saya soal konsumsi kopi ini. Walaupun hanya bisa 3 cangkir dalam seminggu, saya akali dengan minum air putih sebanyak-banyaknya. Kenyang air deh . 

He was my cream, and I was his coffee - And when you poured us together, it was something ~ Josephine Baker