Twilight with Rick Riordan taste.
Biasanya saya hanya bisa merekomendasikan buku sebatas dari
apa yang menarik dari buku itu. Awalnya saya melihat buku Tiger’s Curse di
Gramedia Teraskota. Dengan embel-embel New York Times Bestseller, sukses
menarik perhatian saya untuk melihat resensinya. Ceritanya cukup menarik
walaupun saya merasa pernah membaca atau melihat cerita yang seperti ini. Resensi
seri pertamanya langsung saya kutip dari bukunya,
“The last thing
teenager Kelsey Hayes thought she'd be doing over the summer was meeting Ren, a
mysterious white tiger and cursed Indian prince! When she learns she alone can
break the Tiger's curse, Kelsey's life is turned upside-down. The unlikely duo
journeys halfway around the world to piece together an Indian prophecy, find a
way to free the man trapped by a centuries-old spell, and discover the path to
their true destiny.”
Berhubung saya pecinta genre petualangan dan fantasi jelas
buku ini masuk kedalam daftar pencarian saya. Setelah mencari kesana kemari, akhirnya saya pun sukses
mendapatkan keempat seri-nya. Kalau menurut penerbitnya serial ini tamat di
buku keempat, walaupun pengarangnya – Ms. Houck – berniat menulis buku kelima.
Legenda India jarang digali oleh pengarang Amerika, jadi hal
itu menjadi sisi positif serial ini (selain dengan penggambaran yang cukup
detil untuk Ren dan Kishan, yummy males!).
Serial ini didasari pada satu sosok legenda India yaitu Durga, seorang dewi
bertangan delapan dengan senjata yang berbeda di tiap tangannya dan takdirnya
untuk sebagai Mahishasura Mardini
. Selain perjalanan mencari senjata-senjata Durga untuk memecah kutukan macan
pada Ren dan Kishan, serial ini juga memfokuskan kepada cinta segitiga tokoh
utamanya yaitu Kelsey, Ren, dan Kishan.
Serial ini akan menarik jika konflik diantara ketiga tokoh
utamanya tidak melulu didominasi oleh kegalauan yang diderita oleh Kelsey, yang
membuat saya bingung. Karena buat saya (dan sebagian besar pembaca serial ini) Love
isn't who you can live
with, it's who you can't live
without. Mungkin bagi penulis konflik yang sederhana kurang panjang
dan membumbui cerita petualangannya sendiri. Dan dengan genre young adult,
terasa jelas kebimbangan si penulis untuk menggambarkan hubungan antar tokoh
utama untuk mengarah ke dewasa/adult.
Saya sendiri hanya tertarik sampai seri kedua, tetapi untuk
mengerti akhir ceritanya, mau tidak mau saya harus terus sampai seri
keempatnya. Walaupun dengan twist yang membuat saya bernapas lega di akhir buku
keempat, saya cukup hangover dengan
kegalauan Kelsey yang mengingatkan saya dengan Bella Swan.
4 Juni 2013 #4
Mayang
P.S. Berhubung ini review buku pertama saya, mohon kritik dan sarannya ya ^_^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar