I realize this story will come again either now or later.
Keluar dari kebiasaan bisa mendatangkan hal yang tidak
terduga. Ini ada kaitannya dengan cara saya pulang dari kantor setiap hari.
Sejak 2 bulan yang lalu saya sudah setia menjadi komuter dengan menggunakan
jasa kereta rangkaian listrik (KRL) untuk berangkat dan pulang kantor. Rute yang
dilayani oleh Commuter Line selain domisili saya di Tangerang salah satunya
adalah Bogor.
Untuk saya Bogor adalah tempat saya tumbuh besar. Mulai dari
3 tahun sampai 18 tahun saya disana. Jadi teman-teman saya sebagian besar
berasal dari kota Bogor. Terkadang saya bertemu dengan teman semasa SMA bahkan
SMP diatas kereta saat pulang, karena banyak penduduk Bogor yang biasanya pergi
kearah Tanah Abang dulu supaya dapat tempat duduk.
Seperti tadi malam ada kejutan menyenangkan, saya bertemu teman SMA. Setelah
menanyakan kabar masing-masing, mulai deh kita bernostalgia tentang teman-teman
semasa SMA.
E : Yang, lu
masih kontak sama Arban?
Gw : Masih.
V : Sering
ketemuan?
Gw : Ngga. Gw
udah ngga ketemu Arban, berapa lama ya? 7 tahun kali.
E : Ooo..
Tapi masih tetep kontak?
V : Eh klo
Anan? Siapa lagi ya dulu?
Gw : Masih
kontak kok. Klo Anan udah jarang. Paling Gibthi, Dorceu,..
Dan mengalirlah
percakapan itu sampai akhirnya gw harus turun untuk transit di Duri. Awalnya
saya tidak memperhatikan, tapi setelah teringat lagi percakapan itu saya jadi
penasaran. Kenapa pertanyaan awalnya tentang Arban. No offense, G. Tapi setelah saya ingat-ingat setiap kali bertemu
dengan teman SMA dua pertanyaan pertama tidak pernah lepas dari tokoh ini,
Arban maksudnya.
Dan
tebersitlah pertanyaan di kepala saya? What happened actually when I’m in high
school? Entah karena saya terlalu naïf atau budek waktu itu, tapi G, is there any issues about us back then?
Hell, I carry this question until I slept last night.
Gossip never die. It just lie under the surface, waiting the right moment to soar above.
5 Juni 2013 #5
Mayang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar