Sudah banyak yang bilang, don’t judge book by its cover atau belajar bisa dimana saja. Hari ini saya banyak belajar dari supir-supir bus. Walaupun tidak semua pelajaran bersifat positif tapi bisa membuat pemikiran positif.
Oke, nomor satu adalah supir bus Patas. Saya naik Patas 45 jurusan Cimone – Blok M sepulang dari kantor tadi pagi. Supirnya tidak banyak omong tapi supirannya… Masya Allah, bikin jantung kebat – kebit. Motor sudah mau dilibas, mobil lain sudah mau diseruduk, aduh… untung sisa perjalanan saya tidur dengan sukses. Dalam pikiran saya, mungkin supirnya sudah kebelet boker atau ada urusan yang jauh lebih mendesak.
Nomor dua, supir bus Arimbi yang saya tumpangi ke Bandung sore ini. Beda dengan supir yang pertama, supir kedua ini banyak omong tapi supirannya… sama saja sama yang pertama, hampir saja polisi ‘lewat’. Tapi beliau cukup oke juga, karena setelah hampir smack down dengan bus Primajasa di tol Cawang, beliau langsung menyusul bus Primajasa tersebut dan menghampiri supir Primajasa di Jatibening dan mengatakan “Euh, maneh mah teu sportif nyupirna. Tong heureuy atuh, aya penumpang. Upami gaduh masalah jeung urang, hayu ribut. Tapi engke nya di Bandung. Antosan urang!” ( Ah, kamu ngga sportif nyupirnya. Jangan becanda dong, ada penumpang. Kalau punya masalah dengan saya, ayo ribut. Tapi nanti ya di Bandung, tunggu saya. -red). Wow, what a manner. Belum pernah nemu supir bus seperti itu. Dan yang paling bikin enak hati adalah ketika dia memberi ‘ceramah’ ke kondektur, “upami nyandak penumpang 25, sabaraha tanggung jawab na?”. Kondektur menjawab, “ nya 25 atuh, A” dibalas lagi oleh si supir, “ Salah, 50 urang. Pan satengahna aya di imah, ngantosan. Upami istri nu di bus aya pamajikan di imah. Nyupir teh bisa bikin pengangguran.” Alhasil selama perjalanan ke Bandung, saya sukses mendengarkan ceramah-ceramah beliau seputar dunia supir dan mengemudi. Kapan lagi bisa belajar driving wisdom dari supir angkutan umum?
Supir nomor tiga adalah supir bus Damri Elang – Jatinangor. Nah kalau supir yang ini membuat saya berpikir ‘kayanya enak ya jadi supir Damri’. Bagaimana tidak, di ujung perjalanan sang kondektur membagi hasil dengan supir tersebut berupa kantung plastik ½ kg berisikan uang receh 500-an (Kan lumayan segitu bisa jadi 15ribu sampai 20ribu, belum duit sisa laporan setoran).
Jadi yang saya serap dari ketiga supir itu adalah tidak semua supir angkutan umum itu berpikiran sempit dan hanya mau menang sendiri (kecuali supir Primajasa tadi siang), dan tidak selamanya jadi supir berarti hidup merana. Semua diciptakan dan ada dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing (klise lah..).
Cannot wait another chance to learn something from strangers. Hope so ;)
02/06/2011
Mayang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar